Chapter 37: Laskar Pelangi

Assalamualaikum wbt,

Dear readers,

It has been quite a while ago since the last words of mine actually being written in the blog. Nevertheless, indeed those posts being shared in this blog are among those which really touched me and I am feeling too selfish for not sharing them with you for you to be inspired with them as well.

Perhaps out of many movies I have watched, honestly, I never came across a movie this inspiring and being so deeply touched by as the one I have watched yesterday night, Laskar Pelangi…

Allow me to express it in Bahasa Melayu since I feel I can express myself better in it…

“Laskar Pelangi langsung mengesaniku dari sudut pandang bagaimana manusia mampu mencapai potensi dirinya serta cita-cita yang diimpinya apabila jiwa mereka bersih dari kotoran-kotoran materi yang membelenggu saat manusia melihat semuanya dari sudut itu di dalam menilai keberjayaan seseorang. Ternyata jiwa yang bersih dan paling dekat dengan fitrahnya merupakan isi penting di dalam membentuk insan yang benar-benar hidup dengan tujuan yang jelas dan mampu berusaha keras mencapainya. Fitrah yang ditanam itu tidak lain adalah fitrah yang juga ditanamkan kepada makhluk di seluruh alam bahawa ianya diciptakan dan ada yang menciptakannya, Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Jiwa yang bersih suci, terdidik dengan pegangan hidup yang benar, kefahaman yang jitu tentang selok belok kehidupan melalui cabaran dan kesukaran yang dihadapinya sejak kecil serta kemahuan yang tinggi untuk berubah dan merubah keadaannya kepada lebih baik sesungguhnya nilai-nilai yang sebenar yang ingin dididik kepada semua anak kecil di dunia ini yang mana semuanya itu tidak tercapai hanya dengan penilaian materi dan angka-angka. Hasil terdidiknya anak-anak ini selari dengan hukum alam yang tunduk kepada Tuhan yang menciptakan mereka, mereka menjadi insan yang tetap optimis dalam semua keadaan, bersyukur dengan segala yang dikurniakan dan terus berusaha untuk memberi sebanyak-banyaknya tanpa meminta balasan sebanyak-banyaknya. Mereka tabah dan cekal menghadapi kehidupan dalam semua keadaan kerana mereka fahami benar bahawa hidup di dunia bukan untuk dimanja-manja tetapi untuk bekerja supaya bahagia di akhirat selari dengan syariat yang Allah SWT gariskan dan selagi mana mereka beriman kepada Allah SWT.

Sesungguhnya pendidikan dan bimbingan yang diterima manusia itulah yang membentuknya. Jika selama ini pendidikan dan bimbingannya adalah jauh dari fitrah sebenarnya, maka jadilah dia manusia yang buta akan fitrahnya, terseksa jiwanya dan tercari-cari solusi bagi persoalan hidupnya. Ini kerana dia tidak mampu menjawab dan mengetahui dengan jelas dimanakah posisinya dan apakah peranannya di dalam alam semesta raya ini.
Jika selama ini mereka dididik dengan fitrahnya yang sebenar sebagai manusia, nescaya mereka menjadi manusia yang sangat beruntung dan bahagia walau bagaimana sekalipun keadaan materinya. Kebahagiaan hasil dari kejelasan yang terang lagi bersuluh tentang siapakah dia, dimanakah dia datang, apa kesudahannya dan untuk peranan apakah dia harus mainkan di alam semesta raya ini. Fitrah itu tidak lain dan tidak bukan adalah apa yang diimani, dipatuhi dan ditunduki oleh seluruh alam semesta raya iaitu fitrah yang Allah SWT ciptakan buat sekelian makhluk khas untuk menjalankan peranannya masing-masing yang mana untuk manusia fitrah itu adalah berbentuk sistem hidup yang selari dengan sistem hidup makhluk yang lain di alam semesta raya ini…itu lah al-Islam.

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam…” (Ali Imran 3: 19)

 

Itulah sebabnya mereka yang terdidik dengan sistem ini jauh berbeza dari manusia yang terdidik dengan sistem ciptaan manusia, di mana mereka ini bisa menghairankan dan dilihat terasing, malah dipinggirkan. Seperti berbezanya SD (singkatan bagi Sekolah Dasar dalam bahasa Indonesia) Muhammadiyah dan SD PN TIMAH di dalam cerita ini. Sekalipun itu, nilai-nilai mulia diaduni beserta kecerdasan yang luar biasa telah berjaya dihasilkan dan diterapkan di dalam diri manusia ini sejak mereka kecil. Karakter Lintang di dalam movie ini ternyata menggambarkannya dengan cemerlang sekali.

Bagi mereka yang mendidik, biar apapun namanya baik ibu, bapa, guru, cikgu, mu’allim, mu’allimah, murabbi, murabbiah, tugas mendidik adalah tanggungjawab setiap insan dewasa yang dikurniakan oleh Allah SWT kebijaksanaan dan keimanan yang benar. Anak-anak kecil yang dahagakan bimbingan dan sokongan sudah pasti akan melelahkan namun kesabaran, kebergantungan total kepada Allah SWT serta usaha gigih yang penuh ikhlas sangat penting di dalam proses mendidik mereka dan menjadikan mereka terkesan dengannya.

Sesuatu untuk difikirkan malah divideokan bagaimana kelak kita mendidik anak-anak kecil kita yang Allah SWT amanahkan nanti…

Hayatilah surah Luqman (31:12-19) ini sebagai panduan mendidik anak-anakmu kelak…

12. Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

16. (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

With that…hopefully it is beneficial…thank you for reading…

Wassalam

ThinkPlanAct

Kacamata Islam Kacamataku…

3 thoughts on “Chapter 37: Laskar Pelangi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s