Chapter 51: Sang Pencinta

Setiap kali bertemu, tak akan pernah lepas dari pembicaraannya untuk bercerita tentang bola pada saya. Saya kenal ia seorang pemain dan pecinta bola, dan seakan kecintaannya pada bola sudah begitu berakar dan mendarah daging dalam dirinya.

Kalau saya ke lapangan bola, atau melihat pertandingan bola pasti saya temukan disana Roy–bukan nama sebenarnya-sedang asyik bermain bola. Dan bila saya dari jauh melihat Roy, akan langsung muncul dalam benak saya tentang bola. Karena, disaat berjumpa dengan Roy ia selalu bercerita tentang bola. Dan prediket itu secara tidak langsung telah melekat pada diri Roy. Ia seakan telah menciptakan imej seorang pecinta bola pada dirinya. Sehingga kalau orang melihat pada Roy, orang pasti akan ingat pada bola.

Lain halnya pemuda sederhana, murah senyum, penyapa, tawadhu dan soleh. Namanya Rofiq, seorang teman saya dari Bangladesh, tinggal di Asrama Mahasiswa Al-Azhar, ia saat ini sedang menempuh program studi S3-nya di Al-Azhar.

Setiap kali saya bertatap muka dengan Rofiq membuat saya ingat pada Allah dan akhirat. Rofiq adalah pecinta Allah. Setiap kali bertemu dengannya ia selalu berbicara tentang Allah, nikmat Allah, kasih sayang Allah pada makhluk-Nya, rahmat-Nya dan karunia-Nya. Setiap kali berhadapan dengannya ia sanggup menggetarkan hati saya tentang Allah dan tentang akhirat. Sehingga hati saya terkadang dirundung kerinduan yang mendalam untuk berjumpa dengan Allah karena kata-katanya. Keimanan saya banyak bertambah dengan taushiah yang ia berikan, sehingga ketika saya lagi futur dalam beribadah, dengan hanya berjumpa dengan Rofiq sudah cukup membangkitkan dorongan dalam diri saya untuk kembali bersemangat.

Hal ini tidak hanya saya yang merasakan tapi teman-teman yang kenal dekat dengan Rofiq juga merasakan seperti yang saya rasakan.

Roy dan Rofiq adalah penggambaran tentang dua manusia yang berbeda. Roy menciptakan imej tentang dirinya bahwa ia pecinta bola, sehingga kemanapun ia pergi selalu ngobrol tentang bola yang paling ia gemari tersebut. Tidak hanya ia tunjukan dengan kata-kata tapi juga sikap, seperti model rambut, pakaian yang sering ia pakai, poster-poster yang menghiasi kamarnya, buku-buku dan bahkan isi komputernya.

Adapun Rofiq juga telah menciptakan imej tentang dirinya bahwa ia pecinta Allah dan akhirat. Setiap kali berjumpa dengan orang lain, siapapun dan dimanapun ia selalu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bercerita tentang Allah dan akhirat. Sehingga siapapun yang bertatap muka dengan Rofiq secara tidak langsung membuatnya ingat pada Allah dan akhirat.

Rofiq telah memenuhi hati dan pikirannya dengan Allah, Dzat yang maha kekal. Wajahnya penuh cinta dan cahaya, air mukanya jernih, senyumnya menggetarkan, tatapannya memberi kekuatan, kata-katanya begitu sanggup menggiring hati untuk terpikat dan akhlaknya begitu mempesona hati.

Sungguh disayangkan keadaan orang-orang yang mengisi hati dan pikirannya dengan selain Allah. Sehingga kemanapun mereka pergi hal itu yang selalu mereka bicarakan. Mereka yang sibuk dengan kesenangan dunia, materi, popularitas dan lainnya, sehingga seakan tidak ada tempat dalam hati mereka untuk mengingat Allah. Bagaimanakah keadaan orang-orang tersebut ketika ajal datang menjemput mereka? Bukankah ketika seseorang sedang dalam sakaratul maut akan mengatakan apa yang selalu ia cintai, pikirkan dan lakukan selama ia hidup di dunia.

Begitu banyak kisah-kisah yang kita baca dan kejadian yang kita dengar dan mungkin kita saksikan langsung tentang bagaimana keadaan orang-orang dalam menghadapi sakaratul maut. Ada yang meninggal sambil menyebut nama pacar yang sangat dicintainya, meninggal seperti sedang menghitung uang, atau meninggal dalam keadaan mata terbelalak, menjerit histeris, bernyanyi dan lainnya.

Adapun mereka yang selama hidup di dunia memenuhi hatinya dengan cinta Allah dan beramal soleh, alangkah bahagianya saat ajal datang, ia begitu fashih dan mudah mengucap kalimat syahadah yang keluar dari hatinya. Karena ketika ia hidup didunia, hati dan pikirannya selalu ia penuhi dengan kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya dan banyak beramal soleh.

Tidak ada salahnya bermain bola, mencari penghidupan dunia, berdagang, menikah, punya anak, mencintai anak dan istri, berbisnis dan lainnya, namun yang salah adalah ketika hal itu lebih kita cintai dan utamakan dari Allah dan ketika hal itu membuat kita lalai dari mengingat Allah.

Firman Allah : “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. ” (Al Baqarah : 165 )

Semoga Allah selalu menuntun kita untuk setia mencintai-Nya sampai ajal datang menjemput, amin.

Wallâhu a`lam

Source: Era Muslim

ThinkPlanAct

9.05pm

Tronoh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s