Tanah air ku ialah setiap inci tanah yang penduduknya beriman dengan ‘La Ilaha Illa Allah, Muhammad Rasulullah’…
ThinkPlanAct
Tanah air ku ialah setiap inci tanah yang penduduknya beriman dengan ‘La Ilaha Illa Allah, Muhammad Rasulullah’…
ThinkPlanAct
Assalamualaikum wbt,
Dear readers,
It has been quite a while ago since the last words of mine actually being written in the blog. Nevertheless, indeed those posts being shared in this blog are among those which really touched me and I am feeling too selfish for not sharing them with you for you to be inspired with them as well.
Perhaps out of many movies I have watched, honestly, I never came across a movie this inspiring and being so deeply touched by as the one I have watched yesterday night, Laskar Pelangi…

Allow me to express it in Bahasa Melayu since I feel I can express myself better in it…
“Laskar Pelangi langsung mengesaniku dari sudut pandang bagaimana manusia mampu mencapai potensi dirinya serta cita-cita yang diimpinya apabila jiwa mereka bersih dari kotoran-kotoran materi yang membelenggu saat manusia melihat semuanya dari sudut itu di dalam menilai keberjayaan seseorang. Ternyata jiwa yang bersih dan paling dekat dengan fitrahnya merupakan isi penting di dalam membentuk insan yang benar-benar hidup dengan tujuan yang jelas dan mampu berusaha keras mencapainya. Fitrah yang ditanam itu tidak lain adalah fitrah yang juga ditanamkan kepada makhluk di seluruh alam bahawa ianya diciptakan dan ada yang menciptakannya, Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Jiwa yang bersih suci, terdidik dengan pegangan hidup yang benar, kefahaman yang jitu tentang selok belok kehidupan melalui cabaran dan kesukaran yang dihadapinya sejak kecil serta kemahuan yang tinggi untuk berubah dan merubah keadaannya kepada lebih baik sesungguhnya nilai-nilai yang sebenar yang ingin dididik kepada semua anak kecil di dunia ini yang mana semuanya itu tidak tercapai hanya dengan penilaian materi dan angka-angka. Hasil terdidiknya anak-anak ini selari dengan hukum alam yang tunduk kepada Tuhan yang menciptakan mereka, mereka menjadi insan yang tetap optimis dalam semua keadaan, bersyukur dengan segala yang dikurniakan dan terus berusaha untuk memberi sebanyak-banyaknya tanpa meminta balasan sebanyak-banyaknya. Mereka tabah dan cekal menghadapi kehidupan dalam semua keadaan kerana mereka fahami benar bahawa hidup di dunia bukan untuk dimanja-manja tetapi untuk bekerja supaya bahagia di akhirat selari dengan syariat yang Allah SWT gariskan dan selagi mana mereka beriman kepada Allah SWT.
Sesungguhnya pendidikan dan bimbingan yang diterima manusia itulah yang membentuknya. Jika selama ini pendidikan dan bimbingannya adalah jauh dari fitrah sebenarnya, maka jadilah dia manusia yang buta akan fitrahnya, terseksa jiwanya dan tercari-cari solusi bagi persoalan hidupnya. Ini kerana dia tidak mampu menjawab dan mengetahui dengan jelas dimanakah posisinya dan apakah peranannya di dalam alam semesta raya ini.
Jika selama ini mereka dididik dengan fitrahnya yang sebenar sebagai manusia, nescaya mereka menjadi manusia yang sangat beruntung dan bahagia walau bagaimana sekalipun keadaan materinya. Kebahagiaan hasil dari kejelasan yang terang lagi bersuluh tentang siapakah dia, dimanakah dia datang, apa kesudahannya dan untuk peranan apakah dia harus mainkan di alam semesta raya ini. Fitrah itu tidak lain dan tidak bukan adalah apa yang diimani, dipatuhi dan ditunduki oleh seluruh alam semesta raya iaitu fitrah yang Allah SWT ciptakan buat sekelian makhluk khas untuk menjalankan peranannya masing-masing yang mana untuk manusia fitrah itu adalah berbentuk sistem hidup yang selari dengan sistem hidup makhluk yang lain di alam semesta raya ini…itu lah al-Islam.
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam…” (Ali Imran 3: 19)
Itulah sebabnya mereka yang terdidik dengan sistem ini jauh berbeza dari manusia yang terdidik dengan sistem ciptaan manusia, di mana mereka ini bisa menghairankan dan dilihat terasing, malah dipinggirkan. Seperti berbezanya SD (singkatan bagi Sekolah Dasar dalam bahasa Indonesia) Muhammadiyah dan SD PN TIMAH di dalam cerita ini. Sekalipun itu, nilai-nilai mulia diaduni beserta kecerdasan yang luar biasa telah berjaya dihasilkan dan diterapkan di dalam diri manusia ini sejak mereka kecil. Karakter Lintang di dalam movie ini ternyata menggambarkannya dengan cemerlang sekali.
Bagi mereka yang mendidik, biar apapun namanya baik ibu, bapa, guru, cikgu, mu’allim, mu’allimah, murabbi, murabbiah, tugas mendidik adalah tanggungjawab setiap insan dewasa yang dikurniakan oleh Allah SWT kebijaksanaan dan keimanan yang benar. Anak-anak kecil yang dahagakan bimbingan dan sokongan sudah pasti akan melelahkan namun kesabaran, kebergantungan total kepada Allah SWT serta usaha gigih yang penuh ikhlas sangat penting di dalam proses mendidik mereka dan menjadikan mereka terkesan dengannya.

Sesuatu untuk difikirkan malah divideokan bagaimana kelak kita mendidik anak-anak kecil kita yang Allah SWT amanahkan nanti…
Hayatilah surah Luqman (31:12-19) ini sebagai panduan mendidik anak-anakmu kelak…
12. Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.
13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16. (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. “
With that…hopefully it is beneficial…thank you for reading…
Wassalam
ThinkPlanAct
Kacamata Islam Kacamataku…
By: Anshari Taslim
Waktu saya SMA dulu, seorang ustadz saya menceritakan bahwa beliau punya seorang guru yang merupakan ulama besar di daerah Mempawah Kalimantan Barat pada masa penjajahan Belanda. Dia mempunyai seorang anak laki-laki kesayangan bernama Abdul Malik.
Suatu ketika Abdul Malik kecil jatuh sakit. Berbagai upaya pengobatan mulai yang tradisional sampai yang paling modern pada zaman itu sudah diupayakan. Bahkan, berbagai doapun sudah dipanjatkan tapi sang anak tak jua kunjung sembuh.
Suatu hari ketika keputusasaan mulai menghantui datanglah seorang tua berjenggot kepadanya menyampaikan, ”Anak kamu itu sebenarnya bisa sembuh dengan syarat kamu harus merawat keris pusaka yang ada di atas parak (semacam plafon dari kayu khas rumah melayu atau bugis di Kalimantan). Dulu leluhur kamu selalu merawatnya dengan memandikannya setiap malam Jum’at, tapi kamu sekarang melupakannya, makanya dia marah dan anak kamu menanggung akibatnya.”
Mendengar itu sang ulama ini lalu mencari keris dimaksud dan ternyata benar, keris itu tersimpan rapi di dalam peti di atas parak rumahnya. Tanpa pikir panjang diambilnya keris tersebut dan dibawanya ke pinggir sungai Mempawah lalu dilemparkannya ke sungai. Kemudian keluarlah sebuah pernyataan tauhid mengejutkan yang membuat bala tentara Iblis lari tunggang langgang, ”Kalau memang tak ada jalan lain untuk menyembuhkan si Malik kecuali dengan merawat keris ini, maka BIARLAH SI MALIK ITU MATI SAJA!! Aku tak sudi menjadi musyrik karenanya, hasbiyallah wa ni’mal wakiil (cukuplah bagiku Allah saja dan Dia adalah sebaik-baik pelindung).”
Tak berapa lama si Malik kecil sembuh, bahkan sampai kisah itu diceritakan kepada saya beliau masih hidup dan terakhir menjabat di KANWIL DEPAG Kalimantan Selatan (kalau ngak salah).
* * * * *
Hikmah yang dapat dipetik dari cerita ini adalah terkadang memang ada penyakit yang disebabkan oleh gangguan jin. Biasanya menimpa anak kecil atau juga orang dewasa yang mana leluhut atau kerabat orang tersebut dulunya suka memelihara jin sebagai khadam. Atau mempunyai ilmu kesaktian dan berbagai jimat.
Bisa saja orangtua berjenggot yang menemui ayah Pak Malik tadi adalah jelmaan jin pula, sebagaimana jin pernah menjelma jadi manusia untuk mencuri barang zakat fitrah seperti dalam hadits riwayat Al-Bukhari dalam shahihnya dari Abu Hurairah. Tujuannya menguji iman hamba Allah yang bersangkutan, sehingga kalau imannya goyah dan menyerah pada kemauan jin setan maka tauhidnya rusak.
Sebaliknya, bila seorang muslim tidak goyah dan menyerahkan semuanya kepada Allah, insya Allah pertolongan Allah akan datang. Kekuatan tauhid yang mukhlis akan membuat Iblis dan bala tentaranya gentar, sehingga mundur dan tak berani lagi berhadapan.
Maka hindari penggunaan benda-benda keramat, jimat, amalan kesaktian dan sejenisnya, karena pasti di belakangnya ada jin jahat, meskipun yang mengamalkan tidak mengakui.
Dan orangtua hendaknya selalu meningkatkan sikap tawakkal kepada Allah, serta memperbanyak dzikir dan beramal hanya yang sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Dengan begitu, tauhid akan bersih dan berbagai gangguan dari makhluk Allah baik jin, manusia, binatang maupun bencana alam akan dapat diatasi dengan pertolongan-Nya.
Salah satu dzikir yang hendaknya dibacakan kepada anak terutama yang masih kecil baik dalam keadaannya sehat maupun sedang sakit adalah:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
”Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala setan dan bahaya yang berbisa serta dari pandangan mata dengki yang tercela.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah, ini adalah redaksi Ibnu Majah).
Saat membaca bisa dengan memandang si anak yang sedang tidur ataupun terjaga sambil memegang anggota tubunya, misalnya kepala, atau tangan atau badan.
Semoga bermanfaat bagi saya pribadi dan semua yang membaca. Amin.
Source: Era Muslim
ThinkPlanAct
Isra’ and Mikraj…
Sebuah perjalanan yang penuh erti. Bukti kasih dan cintaNya terhadap hamba ciptaanNya yang bernama manusia.
Makhluk yang dicipta penuh kasih dan sayang yang tergambar dari kurniaanNya yang sungguh bermakna, ummi dan abi.
Yang tercipta dari tanah, air hina, kemudian dimuliakan dengan tugas Pentadbir dunia, Khalifah,
juga sebagai Hamba yang tulus mengabdi hanya keranaNya.
Isra’ dan Mikraj,
Sebuah perjalanan yang menggoncangkan iman yang cetek di jiwa,
Namun penguat bagi yang setia, beriman dan tulus percaya.
Penguat bagi diri yang yaqin penuh daya untuk menegak Ad-Dinul Islam mulia.
Isra’ dan Mikraj,
Penanda betapa mulia manusia yang taat kepadaNya, nikmat Syurga bahagia..
Penanda betapa nista manusia yang ingkar terhadapNya, seksaan Neraka penuh merana…
Isra’ dan Mikraj,
5 waktu dikurnia…
Menjadi kerehatan dari kesibukan dunia…”Rehatkan kami dengan solat.. ya Bilal!” Rasulullah bersabda…
Waktu sungguh istimewa antara hamba dan penciptaNya…
Agar bisa tenang dan bahagia dalam menjalankan usaha yang panjang…
Peringatan akan pertemuan denganNya nanti…
Isra’ dan Mikraj,
Berbahagialah hambaNya yang patuh dan sabar bekerja…
Dengan jiwa penuh ikhlas menharapkan redhaNya…
Kerana tiada yang lebih tinggi nilainya…
Melainkan saat pertemuan dengan kekasih yang didamba cintaNya…
Allah Maha Pencipta, yang menciptakan manusia…Penguasa Alam Raya
Ya Allah, Engkaulah yang membolak balikkan hati ini…
tetapkanlah ia di atas DeenMu..
tetapkanlah ia untuk terus berjuang di jalanMu…
jalan para NabiMu, RasulMu dan hambaMu yang ikhlas beriman dan berjuang hingga Hari Qiyamat…
Ameen
ThinkPlanAct
(5.55pm, 30 Julai 2009)
(Background Song: Perjalanan Di Malam Hari – Snada)
Assalamualaikum (peace be upon you),
My dear readers,
What it takes to defend your Iman (faith)?
What it takes to defend your Hijab?
Would you do the same as Marwa Al-Shirbini?
May Allah bless Marwa Al Shirbini, “the Hijab Martyr“.
ThinkPlanAct
=====================================================
Killing Veiled Muslims in Europe, a Forthcoming Trend?
By Euro-Muslims Editorial Desk
Marwa Al-Shirbini, the victim
A veiled Muslim mother was savagely murdered in Dresden courtroom, Germany. The murderer is the same attacker who was in court appealing the €780 fine for his insult to the victim’s Islamic headscarf.
Marwa Al-Sherbini, a 32-year-old Egyptian based in Germany, was stabbed several deadly times under the court ceiling and with the presence of the German police. She has been living in Germany for years with her husband, the Egyptian academic Elwi Ali-Okaz, who is studying for his post graduate studies in Germany.
The three-month pregnant mother was not the only victim but Okaz, her husband, was also hurt in his attempts to protect her from the criminal’s knife and he is currently in a critical condition at Dresden College hospital.
The stabbing happened on July 1, just before Al-Sherbini was to give her evidence on a recent discriminatory attitude took by the criminal towards her hijab. During the struggle, other bystanders were also injured and police fired a shot. The killer, identified only as Alex W., is now subject to the German police forces’ investigations.
While some officials insist on not to relate this criminal act to the fact that Mrs. Al-Sherbini is a veiled Muslim woman in the German secular society assuming that it has nothing to do with persecution against Muslims in Germany, others say that this incident shows a sample of open hostility towards foreigners and Muslims in Germany.
It is worth mentioning that this incident came days after the German Interior Minister Wolfgang Schaeuble sought understanding for Germany’s integration policies in a speech he gave at Egypt’s Cairo University, stating that anti-democratic ideas in Muslim communities must be combated.
Source: Islam Online.Net

Bulan Ramadhan menjadi bulan yang penuh kenangan bagi Sarah Allen. Karena pada bulan suci itulah Sarah mengalami perubahan besar dalam hidupnya, yang membulatkan tekadnya untuk segera bersyahadat.
Ia ingat, ketika Ramadhan tiba, baru setahun ia mempelajari agama Islam. Meski baru setahun mempelajari Islam, Sarah menemukan bahwa agama Islam adalah agama yang sempurna dan saat itu Sarah sudah punya keinginan untuk menjadi seorang Muslim.
“Setelah mempelajari agama Islam, saya makin tertarik untuk memperdalam agama ini, yang menurut saya sangat sempurna. Setelah mempelajari agama Islam, saya merasakan hidup saya pelan-pelan berubah. Cara berpakaian saya jadi lebih sopan, saya jadi lebih rendah hati dan saya merasakan kedamaian dengan perubahan itu,” ungkap Sarah.
Ia melanjutkan, “Saya sadar apa yang telah membuat saya berubah dan saya memutuskan untuk masuk Islam. Saya tahu, keputusan ini akan membawa perubahan besar bukan hanya bagi hidup saya, tapi juga orang-orang tercinta di sekeliling saya. Saya pun memutuskan untuk melakukannya dengan pelan dan bertahap sebelum saya betul-betul menyatakan diri sebagai seorang Muslim.“
Bulan Ramadhan datang, Sarah berpikir inilah saat yang tepat baginya untuk mempraktekkan apa yang ia ketahui tentang Islam. Ia memutuskan untuk ikut berpuasa meski saat itu ia belum menjadi seorang Muslim. Selama mempelajari Islam, Sarah tahu umat Islam diwajibkan berpuasa pada saat bulan Ramadhan. Ia berpikir, pastilah sangat berat melakukan puasa, tidak makan dan tidak minum sehari penuh. Dan itu akhirnya ia rasakan sendiri saat Sarah mencoba berpuasa.
“Saya berpikir, pasti sulit rasanya tidak makan dan tidak minum seharian penuh. Dan saya benar ! Apalagi berpuasa pada saat musim panas, masa yang paling berat yang pernah saya rasakah. Tapi pahalanya juga besar,” ujar Sarah tentang pengalaman puasanya.
Menurutnya, ketika ia berpuasa hal yang paling berat adalah melihat orang di sekitarnya makan tanpa menyadari ia sedang berpuasa. Tapi tantangan itu membuat tekad Sarah makin kuat. “Saya kira apa yang saya rasakan juga dialami oleh saudara-saudara seiman saya di seluruh dunia, kami menahan diri dari makan dan minum untuk Allah Swt. Kita akan merasakan perasaan yang luar biasa …” ujar Sarah.
“Saya merasa seperti seorang yang sangat kuat, karena saya harus mengendalikan perilaku dan tubuh kita. Dalam kondisi itu, Anda akan merasakan bahwa Anda-lah yang punya kekuatan dan menentukan apa saja yang akan Anda lakukan.“
“Kebiasan-kebiasaan buruk harus ditunggalkan dan Anda akan merasa seperti manusia yang baru. Anda akan merasa lebih kuat dari sisi spiritual, lebih disiplin dan lebih memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sosial Anda,” papar Sarah mengungkapkan apa yang dirasakannya saat berpuasa.
Tiga tahun lamanya, Sarah mempelajari Islam dan selalu ikut berpuasa di bulan Ramadhan. Akhirnya, pada bulan Januari 2005, pada usia 19 tahun, perempuan asal Sydney Australia itu memutuskan untuk bersyahadat dan menjadi seorang Muslimah.
Pengalaman berpuasa telah memberikannya banyak pengalaman batin untuk menghayati makna ibadah puasa bagi seorang Muslim. Bedanya, kata Sarah, setelah ia menjadi seorang Muslim, ia jadi lebih memahami kewajiban berpuasa dan aturan dan tata cara menjalankan ibadah puasa.
“Satu hal yang paling saya sukai pada bulan Ramadhan, saya merasakan Ramadhan makin memperkuat umat Islam dan saya merasakan rasa persatuan yang begitu dalam,” kata Sarah menutup ceritanya tentang pengalaman berpuasa yang mengantarkannya menjadi seorang Muslimah.
Source: Era Muslim
Ama Zilna (Are we still…?)
Approaching God with our hearts
No fear nor grief for whom He guides
His rope is strong and will never waver
His provision is there for all who are in need
In every place, at every time
Above you is The Glorious Caretaking Lord
In every place, at every time
You have a Lord who loves you and will never forget you
Do we know our Lord?
Do we see our Lord’s blessings?
Do we know our Lord?
Do we thank Him… or have we forgotten..
that His servants… we are
In His Dominion we exist for as long as He wills
And we call upon His bounty through prayer
And seek His favors through hope
For He is our refuge when difficulty strengthens its hold
In every place, at every time
Above you is a Gloriouscare Taking Lord
In every place, at every time
You have a Lord who loves and will never forget you
Do we know our Lord? Do we see our Lord’s blessings?
Do we know our Lord? Do we thank Him… or have we forgotten..
that His servants… we are
My heart is Allah’s, My soul is Allah’s
My wealth is Allah’s
Singer: Benammi
Album: Bali daba
[ www.thenasheedlyrics.com ]
ThinkPlanAct
“Begini Anakku, jika suatu ketika kau dimurkai ibumu
misalnya, carilah sebab kenapa kau dimurkai ibumu. Hayati
perasaanmu saat itu, saat kau dimurkai. Ibumu murka kemungkinan
besar karena kau melakukan suatu kesalahan, yang
karena kesalahamnu itu ibumu murka. Dan saat kau dimurkai
pasti kau merasakan kesedihan, bercampur ketakutan dan juga
penyesalan atas kesalahanmu. Itulah yang kau temui dan kau
rasakan, saat itu. Lalu hayati hal itu sungguh sungguh, dan
hubungkan dengan akhirat. Bagaimana rasanya jika yang
murka kepadamu adalah Allah. Murka atas perbuatanperbuatanmu
yang membuat-Nya murka. Bagaimana perasaanmu
saat itu. Mampukah kau menanggungnya. Jika yang
murka adalah ibumu, kau bisa meminta maaf. Karena kau
masih ada di dunia. Jika di akhirat bisakah minta maaf kepada
Allah saat itu? “
Petikan dari:
Ketika Cinta Bertasbih
karangan Habiburrahman Al-Shirazy

In the Name of Allâh, the Most Gracious, the Most Merciful
O you wrapped in garments (i.e. Prophet Muhammad [sal-Allâhu 'alayhi wa sallam])! (1)
Stand (to pray) all night, except a little – (2)
Half of it, – or a little less than that, (3)
Or a little more. And recite the Qur’ân (aloud) in a slow (pleasant tone and) style. (4)
Verily, We shall send down to you a weighty Word (i.e. obligations, laws). (5)
Verily, the rising by night (for Tahajjud prayer) is very hard and most potent and good for governing oneself, and most suitable for (understanding) the Word (of Allâh). (6)
Verily, there is for you by day prolonged occupation with ordinary duties. (7)
And remember the Name of your Lord and devote yourself to Him with a complete devotion. (8)
(He Alone is) the Lord of the east and the west; Lâ ilâha illâ Huwa (none has the right to be worshipped but He). So take Him Alone as Wakîl (Disposer of your affairs). (9)
(Surah Al-Muzzammil 73, Verse 1-9)
Nothing better than Al-Quran to accompany you along the way from which you listen, recite and ponder upon the verses, so that you could find peace and strength to face whatever the world throws you with.
Allah SWT is the Lord of the Universe, the Creator of All Things on the Earth and Heavens. From him we came and to Him we shall return. We pray for Allah accepts all our deeds in this life to gain His pleasure in the Hereafter…Ameen
~~~To all my UTP BIS/ICT friends, all the best for your internships!~~~
~~ThinkPlanAct ~~
Episode 1:
Episode 2: